Rabu, 01 September 2010

NEGARA AMERIKA SERIKAT DIBANGUN DARI EMAS PAPUA

Freeport adalah pertambangan emas terbesar di dunia! Namun termurah dalam biaya operasionalnya. Sebagian kebesaran dan kemegahan Amerika sekarang ini adalah hasil perampokan resmi mereka atas gunung emas di Papua tersebut. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!

Akhir tahun 1996, sebuah tulisan bagus oleh Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport.”

Walau dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959.

Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan
alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata. Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.

Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah spertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!
Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C.Long juga aktif di Presbysterian Hospital di NY dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C.Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Augustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di Negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jendral Suharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.

Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengekplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?

Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebab itulah, ketika UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Suharto adalah Freeport!. Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.
Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setelab 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.
Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia!!
Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!!
Kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam. Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua yang sampai detik ini masih saja hidup bagai di zaman batu.

Freeport merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini, yang dari sipil maupun militer. Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

disadur dari :  
source: www.lintasberita.com
Selengkapnya »»»

Wajah Asli Pendiri Negeri

Dr. Lambert Giebels, 66 tahun, penulis biografi Soekarno : "Soekarno, 1901-1950" dan "Soekarno, 1950-1970" yang keduanya dipersiapkan selama 5 tahun (1996-2001) hingga "Giebels sampai serasa hidup dan tinggal dengan Sukarno," kata Giebels kepada TEMPO. Banyak sekali masalah kontroversial dalam fase hidup Sukarno yang diungkapkan, misalnya soal Sukarno di masa Jepang. Giebels mengabdikan halaman yang cukup panjang untuk mengulas apakah Sukarno seorang kooperator atau kolaborator Jepang.

Beberapa hal yang cukup kontroversial diulas Giebels, diantaranya :

1. Soekarno tidak berperan dalam Soempah Pemoeda
Giebels merujuk Abu Hanifah yang menulis Dongeng dari Masa Revolusi (Tales of a Revolution). Dari dialah, Giebels kumpulkan sebagian besar informasi seputar Sumpah Pemuda.Menurut Hanifah, Sukarno hanyalah saksi mata pasif di pertemuan 28 Oktober 1928 yang kondang itu. Dari riset yang Giebels lakukan, tak ada informasi yang membantah hal tersebut, kecuali pernyataan dari Sukarno sendiri. Sukarno menyatakan bahwa dirinya berada di tengah-tengah panggung. Di sini tampak kepribadiannya yang narcissistic?.

2. Soekarno bertanggung jawab atas suksesnya program Romusha
Ada dua disertasi sejarawan Jepang yang mendasari analisis Giebels terhadap kasus romusha, yakni War and Peasants: the Japanese Administration in Java and Its Impact on the Peasantry 1942-1945 karya Shigeru Sato dan Mobilization and Control: a Study of Social Change in Rural Java 1942-1945 karya Aiko Kurasawa. Referensi lain adalah tulisan Tan Malaka tentang pengalamannya di Banten. 
Di tahun-tahun pertama penjajahan Jepang, rekrutmen romusha merupakan kebijakan rasional yang bertujuan memobilisasi jutaan penganggur untuk merehabilitasi dan membangun Pulau Jawa. Kebijakan ini tak banyak berbeda dengan rekrutmen tenaga kerja di berbagai negara Barat selama krisis ekonomi tahun 1930-an. Hatta pun setuju dengan gagasan ini. Sebab, saat menjadi mahasiswa di Rotterdam, Hatta pernah melihat kebijakan semacam ini diterapkan di Barat. Masa kerja paksa ini berlangsung selama 3 bulan saja. 
Pekerja romusha bekerja di wilayah masing-masing dan mendapatkan makanan secara cukup. Kondisi romusha ini berubah pada akhir 1943, ketika Tokyo memutuskan agar Jepang mengambil sikap bertahan dan mengamankan belahan Jepang dengan bantuan militer selama waktu tertentu. Pada titik itulah kerja paksa berubah menjadi perbudakan. Banyak dari mereka yang dikirim jauh dari kampung halaman selama lebih dari tiga bulan. 
Sukarno layak dipersalahkan. Dalam otobiografinya, ia memang menyalahkan diri sendiri karena mempropagandakan program rekrutmen romusha tersebut. Apakah Hatta juga bertanggung jawab soal romusha ini? Ya, Hatta, yang menjadi Ketua Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), pun mesti dipersalahkan. Begitu juga pemerintah setempat Indonesia (kebanyakan kalangan priayi) yang mengeruk untung atas setiap tenaga kerja pria yang mereka serahkan kepada tim rekrutmen seraya melindungi keluarga dan teman-teman mereka sendiri. Begitu juga pemuda yang dilatih oleh pihak militer yang mengejar orang-orang yang berpotensi jadi romusha sampai ke desa-desa. 
Di sisi lain, peran Sukarno dalam skandal romusha tampak dibesar-besarkan. Misalkan, ada sebuah foto yang begitu terkenal, Sukarno berpose sebagai romusha ideal. Giebels sarankan Anda berbicara dengan Rosihan Anwar tentang proses pembuatan foto ini di Bogor. Ia saksi mata peristiwa itu. Satu hal baru lagi yang Giebels temukan seputar skandal romusha adalah soal jumlah romusha yang meninggal dunia. Jumlah ini terlalu dibesar-besarkan. Hal ini merupakan kebijakan yang disengaja oleh pemerintah Indonesia di era 1950-an. Jumlah korban romusha merupakan argumen kuat untuk menuntut pampasan perang (war reparation) yang tinggi dari pemerintah Jepang

3. Menyetorkan ratusan jugun ianfu
Giebels tidak mengerti kenapa informasi ini begitu mengejutkan Anda (yg dimaksud wartawan TEMPO Seno Joko Suyono, Gita W. Laksmini, dan Leila S. Chudori). Sukarno menyebut hal ini kepada Cindy Adams. Anda mesti sadar bahwa ketika itu Sukarno hanyalah seorang pemimpin lokal, pemimpin setempat. Apabila ia memprotes, besar kemungkinan Sukarno akan langsung dilempar ke dalam hotel prodeo alias masuk bui. Giebels berpendapat bahwa Sukarno membuat keputusan yang terbaik yang bisa ia perbuat ketika itu. Sukarno melindungi para perempuan dari perilaku serdadu Jepang dan menyediakan kesempatan kerja kepada pekerja seks komersial profesional di Padang.

Sukarno melihat adanya kesempatan untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Jepang ketika Imamura memimpin. Sukarno cukup realistis dalam hal ini. Sebelumnya, Jepang sudah memberikan kemerdekaan kepada Filipina dan Burma. Bulan September 1944, deklarasi Koiso menjanjikan kemerdekaan Indonesia. Lepas dari perasaan utang budi Sukarno kepada Jepang atas kesempatan tersebut, Sukarno memang menyukai Negara Jepang dan orang-orangnya. Jepang menjadi negara tujuan kegemarannya.

Sukarno bahkan menikahi dua hostesu Jepang (hostesu pertama bernama Sakiko, yang bunuh diri pada 30 September 1959 dengan mengiris nadinya di kediamannya di Menteng karena malu lantaran hostesu kedua, Dewi, menjadi istri favorit Sukarno)

4. Menolak 2 naskah proklamasi, dari para pemuda yang menolak campur tangan Jepang dan dari Sutan Sjahrir.
Sjahrir menulis satu teks proklamasi kemerdekaan. Giebelsngnya, teks tersebut lenyap entah ke mana. Ini juga menyulitkan riset Giebels. Sekalipun demikian, Soebadio Sastrosatomo almarhum sangat yakni bahwa teks ini pernah ada. Ia mengatakan kepada Giebels bahwa ketika Sjahrir sempat membuat beberapa perubahan, Sjahrir melakukan perbaikan di sana-sini menggunakan pena milik Soebadio yang lupa ia kembalikan. Soebadio ingat bahwa teks tersebut kira-kira terdiri atas 100 kata. Isinya sangat anti-Jepang dan tidak terlalu kritis terhadap kolonialisme Belanda. Sukarno dan Laksamana Maeda kemudian memilih teks versi Hatta. Tapi itu pun menghapus kalimat Hatta yang berbunyi "Kekuasaan direbut dari tangan para penguasa." Sukarno dan Hatta sadar bahwa kerja sama dengan pihak Jepang perlu untuk menghindari banjir darah. Tapi, di saat yang sama, hal tersebut menunjukkan Sjahrir memang tidak ingin bergabung dengan Sukarno-Hatta. Mereka akhirnya sepakat bekerja sama ketika di rumah Laksamana Maeda.

Giebels pun menyebutkan Sukarno sebenarnya menginginkan enam orang mahasiswa radikal agar ikut menandatangani teks proklamasi bersama dirinya dan Hatta. Tapi para pelajar tersebut menolak karena beranggapan teks proklamasi versi Hatta merupakan hasil kompromi Indonesia-Jepang. Sumber utama dari peristiwa tersebut adalah memoar dari Nishijima yang disusun oleh Anthony Reid dan Oki Akari (editor) dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs 1942-1945, di mana terdapat pernyataan Nishijima kepada komite interograsi Belanda, yang Giebels temukan dalam arsip-arsip organisasi intelijen KNIL (Nefis) dan memoar Hatta

5. Melakukan negosiasi rahasia dengan Belanda
Sukarno, menurut Giebels, diam-diam mengatur kesepakatan dengan pemerintah Belanda melalui seorang agen rahasia bernama Bob Koke. Isi negosiasi adalah Sukarno tidak keberatan apabila pemerintah Belanda kembali menunjuk seorang gubernur jenderal untuk memerintah Indonesia, asalkan dia yang menjadi perdana menteri dan asalkan Indonesia bisa memperoleh 50 persen keuntungan perusahaan-perusahaan Belanda.

Nama Robert Koke pertama kali Giebels baca ketika Giebels menerjemahkan buku Revolusi dari Nusa Damai (Revolt in Paradise) karya K'tut Tantri (nama asli perempuan Amerika ini: Muriel Pearson) ke bahasa Belanda. Di awal 1930-an, Koke dan istrinya membuka hotel pertama di Kuta, Bali, bernama Hotel Kuta. Peran Koke sebagai agen itu Giebels dengar dari seorang Australia bernama Timothy Lindsey, yang berkawan dengan K'tut Tantri, semasa K'tut tinggal di Sydney, dan berharap bukunya yang best seller itu difilmkan. Timothy Lindsey menulis biografi tentang K'tut Tantri berjudul Romantika K'tut Tantri dan Indonesia (The Romance of K'tut Tantri and Indonesia), yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada 1997. Dalam buku ini, Timothy Lindsey mengungkapkan peran Koke, di halaman 164-165, termasuk pertemuan Bob Koke dengan Sukarno di halaman 386. Giebels sendiri kurang tahu apakah Timothy Lindsey pernah bertemu dengan Bob Koke. Di buku ini, Koke menyatakan bahwa Mohammad Diah beserta keluarga berada bersama dirinya dalam pertemuannya dengan Sukarno sebagai penerjemah. Mungkin Pak Mohammad Diah dan istrinya bisa memberikan informasi lebih banyak tentang hal ini.

Sebagai sebuah disertasi, karya Timothy Lindsey itu Giebels anggap punya otoritas yang bisa diandalkan. Tapi, apabila pertemuan tersebut betul-betul terjadi dan isinya memang demikian, Giebels tidak sependapat dengan pernyataan bahwa Sukarno "menjual" Indonesia. Sebab, Sukarno sendiri adalah laki-laki yang gemar omong kosong. Kemungkinan negosiasi ini hanyalah gagasan sekilas Sukarno untuk mencari tahu bagaimana musuh bereaksi?.

6. Sangat gandrung teosofi
Konon, Sukarno orang yang sangat terpengaruh teosofi. Pemimpin-pemimpin pergerakan nasional Indonesia sendiri seperti tokoh Boedi Oetomo, H. Agoes Salim, Tjipto Mangoenkoesumo, adalah penganut teosofi. Sementara itu, di masa remajanya, Sukarno sering bergelut di perpustakaan teosofi karena sang ayah merupakan pengikut teosofi.

Informasi tentang latar belakang teosofis pada diri ayah Sukarno Giebels peroleh dari studi mendalam tentang gerakan teosofi di Indonesia dalam buku The Politics of Divine Wisdom 1875-1947 karya Herman de Tollenaere (Nijmegen, 1996). Giebels kira buku ini pun layak untuk diresensi TEMPO. Anda sebaiknya langsung menghubungi pengarangnya. Giebels yakin, ia pasti antusias dan segera mengirimkan contoh bukunya kepada Anda. Sesungguhnya Sukarno tidaklah terlalu taat menjalani kepercayaan yang diturunkan dari ayahnya. Sejak ia menetapkan Demokrasi Terpimpin pada 1959, Sukarno melarang Masyarakat Teosofi Indonesia (Theosophical Society of Indonesia) dengan menggunakan dekrit presiden (bersama dengan Freemasonry dan musik rock 'n' roll).

7. Kencan Marylin Monroe?
Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno tak bisa menyembunyikan kesukaannya terhadap wanita. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik”, katanya
“Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa”, kata Soekarno menangkis cemooh orang ketika dia menemui aktris Gina Lollobrigida waktu berkunjung ke Italia bulan Oktober 1964.
Pertemuan Marylin dan Soekarno bisa terwujud atas jasa Joshua Logan, sutradara film “Bus Stop” yang diperani oleh Marilyn. Waktu itu dia sedang sibuk syuting ketika Soekarno berada dan bertemu sekitar 200 pekerja film di sana.
Malam hari Soekarno di Hollywood, Eric Allen Johnston, Presiden Motion Picture Association of America (MPAA) mengadakan pesta untuk menghormati Soekarno dan rombongannya di the Beverly Hills Hotel, Hollywood. Sebenarnya Marilyn tak dijadualkan datang ke pesta itu apalagi diundang. Tetapi saat syuitng film “Bus Stop” dia diajak Joshua Logan. “Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti malam”, bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marylin mengiyakan permintaan Logan. Padahal esok harinya dia akan berulang tahun ke 30 dan harus terbang malam itu juga ke New York untuk suatu acara.  
Akhirnya Marilyn datang juga ke pesta yang khusus diadakan untuk menghormati Soekarno itu. Dia mengenakan gaun gelap berleher panjang. Seketika kehadirannya membuat atmosfir pesta lebih hidup. Bahkan beberapa aktor ternama sudah hadir terlebih dahulu, termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian jadi presiden AS). 
Kehadiran Marilyn benar-benar memberi oksigen dalam pesta itu, serta mencuri perhatian hampir semua orang. Soekarno segera menghampiri saat mengetahui kedatangannya. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. Layaknya seperti dua sahabat yang lama yang tak bertemu. Momen itu tak disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia.

Marilyn dengan basa-basi mengatakan bahwa dia menyesal tak diundang ke pesta itu. Namun Soekarno tak peduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu dengannya. “Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuinya (Marilyn)”, kata Soekarno, sedikit diplomatis.
Pertemuan Marilyn dengan Soekarno meninggalkan beberapa kisah menarik yang berkembang melampaui batas-batas fakta sebenarnya. Misalnya, dalam buku Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers. Dalam buku itu ada bagian yang menceritakan tentang affair kedua lagenda itu, yang menurut saya sangat sulit dikonfirmasikan apalagi untuk dibenarkan. 
Misalnya saja pengakuan sutradara Joseph Logan dalam buku itu. “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu”, kenang Logan yang memperkenalkan Marilyn kepada Soekarno.

*Sekedar melihat sisi lain Proklamator RI di bulan Agustus 2010 ini
SOURCE: www.suarabawahtanah.co.cc
Selengkapnya »»»

Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih



Sisingamangaraja merupakan nama besar dalam sejarah Batak. Dia tokoh pemersatu. Dinasti Sisingamangaraja dimulai sejak pertengahan tahun 1500-an, saat Raja Sisingamangaraja I yang lahir tahun 1515 mulai memerintah. Dia memang bukan raja pertama di sana. Pemerintahan masa sebelum itu dikenal dengan nama bius. Satu bius merupakan kumpulan sekitar tujuh horja. Sedangkan satu horja terdiri dari 20 huta atau desa yang punya pimpinan sendiri. Ada Bius Toba, Patane Bolon, Silindung dan sebagainya.
Dari 12 orang yang melanjutkan dinasti Sisingamangaraja, Singamangaraja XII merupakan raja paling populer dan diangkat sebagai pahlawan nasional sejak 9 November 1961. Lukisan dirinya yang dibuat Augustin Sibarani yang kemudian tercetak di uang Rp 1.000 yang lama, merupakan satu-satunya “foto” diri Sisingamangaraja. Dia naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon.
Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy(politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.
Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan.
Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser
Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.
Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain; Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)
Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya. Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.
Mohammad Said, dalam bukunya Sisingamangaraja XII menyatakan kemungkinan benar bahwa Sisingamangaraja seorang Muslim. Pedomannya berasal dari informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea. Meerwaldt mendengar Sisingamangaja sudah memeluk Islam.
Di majalah Rheinische Missionsgessellschaft tahun 1907 yang diterbitkan di Jerman yang menyatakan, bahwa Sisingamangaraja, kendati kekuatan adi-alamiah yang dikatakan ada padanya, dapat jatuh, dan bahwa demikian juga halnya dengan beralihnya dia menjadi orang Islam dan hubungannya kepada orang Aceh.
Hubungan dengan Aceh ini terjadi Belanda menyerang Tanah Batak pada tahun 1877. Karena lemah secara taktis, Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya. Dia berangkat ke wilayah Gayo, Alas, Singkel, dan Pidie di Aceh dan turut serta pula dalam latihan perang Keumala.
Pertukaran perwira dilakukan. Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh.
Informasi itu berdasarkan Kort Verslag Residen L.C Welsink pada 16 Agustus 1906. Dalam catatan itu disebutkan, seorang panglima Sisingamangaraja XII bernama Guru Mengambat dari Salak (Kab. Pakpak Hasundutan sekarang) telah masuk Islam. Informasi ini diperoleh oleh Welsink dari Ompu Onggung dan Pertahan Batu.
Dalam sebuah surat rahasia kepada Departement van Oorlog, Belanda, Letnan L. van Vuuren dan Berenshot pada tanggal 19 juli 1907 menyatakan, Dat bet vaststaatdat de oude S .S. M. Met zijn zonns tot den Islam waren over gegaan, al zullen zij wel niet Mohamedan in merg en been geworden zijn/ Bahwa sudah pasti S. S. M. yang tua dengan putra-putranya telah beralih memeluk agama Islam, walaupun keislaman mereka tidak seberapa meresap dalam sanubarinya.
Surat Kabar Belanda Algemcene Handeslsblad pada edisi 3 Juli 1907, sebagaimana dinyatakan Mohammad Said dalam bukunya, menuliskan, “Menurut kabar dari pendudukan, sudahlah benar raja yang sekarang (maksudnya Sisingamangaraja) semenjak lima tahun yang lalu telah memeluk Islam. Tetapi dia bukanlah seorang Islam yang fanatik, demikian pula dia tidak menekan orang-orang di sekelilingnya menukar agamanya”.
Informasi ini semakin menguatkan dugaan Sisingamangaraja XII telah memeluk Islam. Apalagi terlihat pola-pola Islam dalam pola administrasi pemerintahannya, misalnya bendera dan stempel.
Bendera Sisingamangaraja XII yang berwarna merah dan putih., berlambang pedang kembar, bulan dan bintang, mirip dengan bendera Arab Saudi sekarang. Bedanya bulan dalam bendera Sisingamangaraja XII yang terletak di seblah kanan pedang merupakan bulan penuh atau bulan purnama, bukan bulan sabit. Sedangkan bintang yang terletak di sebelah kiri memiliki delapan gerigi, bukan lima seperti yang biasa terlihat di mesjid dalam lambang tradisi Islam lainnya. Namun benda bergerigi delapan itu bisa juga diartikan sebagai matahari.
Bagian luar stempel Sisingamangaraja yang mempunyai 12 gerigi pinggiran juga menggunakan tarikh Hijriah dan huruf Arab. Namun huruf Arab itu untuk menuliskan bahasa Batak, “Inilah cap Maharaja di Negri Toba Kampung Bakara Nama Kotanya, Hijrat Nabi 1304”. Sedangkan aksara bataknya menuliskan Ahu Sahap ni Tuwan Singa Mangaraja mian Bakara, artinya Aku Cap Tuan Singa Mangaraja Bertakhta di Bakara.
“Sebenarnya bendera dan stempel itu sudah mencirikan corak Islam dalam pemerintahan Sisingamangaraja. Dengan demikian kuat kemungkinan dia sudah memeluk Islam, tetapi tidak ada data otentik jadi tidak bisa dipastikan kebenarannya,” kata Ketua Majelis Ulama Sumut H Mahmud Azis Siregar.
Keterangan lebih mendalam disampaikan, Dada Meuraxa dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumatera Utara. “Sisingamangaraja XII sudah masuk Islam dan disunatkan di Aceh waktu beliau datang ke Banda Aceh meminta bantuan senjata,” kata Meuraxa.
Dalam buku itu Meuraxa menyebutkan, keterangan itu berdasarkan pernyataan seorang sumber, Tuanku Hasyim, yang mengutip pernyataan bibi-nya yang juga istri Panglima Polem yang menyaksikan sendiri upacara tersebut di Aceh.
“Walaupun belum cukup fakta-fakta Sisingamangaraja seorang Islam, tetapi gerak hidupnya sangat terpengaruh cerita Islam. Sampai kepada cap kerajaannya sendiri tulisan Arab. Benderanya yang memakai bulan bintang dan dua pedang Arab ini pun memberikan fakta terang,” tulis Dada Meuraxa.
Singamangaraja XII sendiri bernama Ompu Pulobatu, lahir pada 18 Februari 1845 dan meninggal 7 Juni 1907 dalam sebuah pertempuran dengan Belanda di Dairi. Sebuah peluru menembus dadanya. Menjelang nafas terakhir, akibat tembakan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Hans Christoffel itu, dia tetap berucap, “Ahuu Sisingamangaraja”.
Ucapan itu identik dengan kegigihannya berjuang.Turut tertembak juga waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sedangkan sisa keluarganya ditawan di Tarutung. Itulah akhir pertempuran melawan penjajahan Belanda di tanah Batak sejak tahun 1877. Sisingamangaraja sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung. Makamnya baru dipindahkan ke Soposurung, Balige seperti sekarang ini sejak 17 Juni 1953.
sumber :
- http://mjinstitute.com/sejarah/21-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam
- http://khairulid.blogspot.com/2005/03/mempertentangkan-agama-sisingamangaraja.html
di ambil dari: http://serbasejarah.wordpress.com
Selengkapnya »»»

Senin, 30 Agustus 2010

GAGAL MENJADI MUJAHID



Dalam mengomentari berbagai peristiwa yang terjadi pada tahun 270 Hijriyah, Ibnul Jauzi menyebutkan adanya seorang lelaki murtad yang bernama Abdullah bin Abdurrahim. Orang yang sengsara ini merupakan salah seorang mantan mujahid yang pernah berjihad bersama kaum muslimin dalam memerangi bangsa Romawi.

Dalam sebuah peperangan, ketika kaum muslimin sedang mengepung salah satu perkampungan milik Romawi, tiba-tiba pandangan Abdullah bin Abdurrahim tertuju kepada seorang perempuan Romawi yang berada dalam benteng pertahanan mereka. Akhirnya dia sangat bernafsu ingin memilikinya.

Dia lupa, tak seorangpun terjamin untuk tidak su-ul khatimah (akhir hayat yang buruk). Dia lupa bahwa maksiat menjadi duta pada kekufuran dan pandangan haram penghantar kepada zina, sementara wanita tetaplah fitnah terberat bagi kaum Adam. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ.
"Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita." (Muttafaq ‘alaihi)

Selanjutnya dia mengirimkan sepucuk surat cinta kepada perempuan yang telah menambat hatinya. Isi suratnya menanyakan,"bagaimana caranya supaya saya bisa sampai ke pangkuanmu?"

Perempuan itu membalas,
 "kamu harus masuk agama Nashrani dulu, baru kamu bisa naik menjumpaiku?"

Si murtad itu memenuhi permintaannya. Dia memeluk agama Nashrani dan meninggalkan agamanya, lalu dia naik ke atas bentengnya dan menikahinya.

Kaum muslimin sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Mereka sangat terguncang, seakan-akan keadaan berkata, "bagaimana mungkin hati yang sudah memahami Al Qur'an, sekarang menjadi hamba salib dan meningalkan Allah?"

Beberapa waktu kemudian, ketika kaum muslimin melintas di hadapannya ketika dia bersama perempuan kafir pujaannya dalam benteng miliknya, mereka bertanya, 
"Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang dilakukan oleh AlQur'an, kitabmu?"

"Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang telah dilakukan ilmumu?"

"Wahai Ibnu Abdirrahman, apa yang telah dilakukan shalat, puasa, dan jihadmu?"


Maka dia menjawab, 
"adapun Al Qur'an, sungguh saya telah dijadikan lupa padanya, dan hanya dua ayat saja yang masih teringat hingga sekarang. Seakan-akan Allah membuat saya tetap mengingat keduanya. Yaitu firman Allah Ta'ala,

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
"Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)." (QS. Al Hijr: 2-3)

"Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. . . ."
 al Ayat

Kemudian dia berkata kepada kaum muslimin,
 "sesungguhnya saya telah memiliki anak dan harta yang melimpah ruah bersama mereka!"

Maksudnya, dia tidak dapat lagi kembali meninggalkan mereka dan kembali ke pangkuan agama Islam. Akhirnya lelaki murtad mantan mujahid itu berada dalam kerugian nyata dan larut dalam kekufuran. Cahaya iman dalam hatinya telah padam, padahal cahaya itu sebelumnya menjadi pelita dalam sanubarinya.


Untuk itu janganlah sekali-kali tertipu dengan jihah yang telah kita lakukan. Seharusnya kita senantiasa memanjakan doa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ , يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu. Wahai Dzat yang mengendalikan hati, arahkan hati kami untuk mentaati-Mu."


(PurWD/voa-islam)


*Sumber: DI Bawah Kilatan Pedang (101 Kisah Heroik Mujahidin), karya DR. Hamid Ath-Thahir.
Selengkapnya »»»

Hukum Meyakini Negara Islam >> Waskito Ibnu Boeang

Belum lama lalu ada pembicaraan luas tentang hukum merokok. Majlis Tarjih Muhammadiyyah memfatwakan bahwa merokok itu haram. Para petani tembakau protes dengan fatwa ini, sebab dianggap berpotensi menutup mata pencaharian mereka. Selain fatwa merokok, kita juga pernah mendengar banyak fatwa, misalnya tentang aborsi, donor organ tubuh, KB, nikah sirri, mengucapkan “selamat natal”, golput, kepiting, tape, film, sulap, dan lain-lain.


Dalam perkara-perkara itu, kita kerap bertanya, “Apa hukum masalah ini dan itu? Bagaimana boleh atau tidak boleh? Halal atau haram?” Dan sebagainya. Dalam urusan muamalah, ibadah, makanan-minuman, profesi, kesehatan, dll. kita sangat sering menanyakan hukum suatu perkara.

Sebagai seorang Muslim, pernahkah kita terpikir untuk bertanya tentang hukum Negara Islam? Bagaimana hukumnya, wajibkah, sunnahkah, mubahkah, atau haram? Perkara Negara Islam tentu lebih penting dari masalah tape, alat kontrasepsi, kloning, film, dan sejenisnya. Ini adalah masalah mendasar dan sangat fundamental. Masalah Negara Islam adalah urusan besar yang menyangkut banyak perkara. Nah, mengapa kita tidak pernah mempertanyakan perkara tersebut?


Jujur saja, kalau seorang Muslim ditanya, hatta itu seorang anggota majlis ulama, apa hukumnya menegakkan konsep Negara Islam? Banyak yang tak akan mampu menjawab. Bila ada jawaban, paling penuh keragu-raguan. Padahal kata Nabi Saw, “Al halalu baiyinun wal haramu baiyinun,” yang halal itu jelas, yang haram juga jelas. Tetapi dalam urusan hukum Negara Islam, seolah semuanya tampak kabur, rumit, penuh perselisihan.

BERBAGAI PANDANGAN KELIRU
Di tengah masyarakat Indonesia, banyak sekali pendapat-pendapat keliru tentang Negara Islam. Pendapat itu beredar dari yang paling lunak sampai yang paling ekstrim. Di antara pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut:
[o] Negara Islam adalah konsep yang melanggar hukum, subversif, ide teroris, sehingga ia harus dimusnahkah, ditumpas, disikat habis sampai ke akar-akarnya. (Pandangan ini dianut oleh Densus 88 dan makhluk sejenis. Mereka bersikap seperti musyrikin Makkah yang memerangi Nabi Muhammad Saw, dalam rangka menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya).
[o] Negara Islam adalah ide yang serupa dengan komunisme, maka ia harus dilarang secara mutlak, karena mengancam NKRI. Negara Islam sama seperti ancaman PKI. (Pandangan ini dianut oleh umumnya perwira dan anggota TNI, baik yang masih aktif atau sudah pensiun. Mereka seperti tidak pernah membaca sejarah, bahwa sebelum ada NKRI, di Indonesia ini sudah berdiri banyak Kerajaan Islam. Bahkan yang memperjuangkan Kemerdekaan RI banyak dari kalangan laskar santri, seperti Hizbullah dan Sabilillah. Bahkan Jendral Soedirman adalah seorang perwira santri. Hanya karena otak TNI sudah disandera pemikiran anti Islam yang dibawa oleh Nasution, Urip Sumoharjo, Gatot Subroto, Soeharto, Ali Moertopo, LB Moerdani, dkk. maka mereka selalu sinis kepada ide Negara Islam. Terhadap negara Hindu seperti Majapahit atau negara Budha seperti Sriwijaya, mereka tidak menolak. Tetapi terhadap Negara Islam, sangat anti. Aneh sekali).
[o] Negara Islam akan menghancurkan NKRI, sebab Indonesia Timur akan menuntut merdeka dari Indonesia. (Pandangan ini dianut oleh kebanyakan orang Indonesia. Pelopornya ialah Soekarno dan Hatta. Dalam kenyataan, meskipun dulu ada gerakan DI/TII, Indonesia tidak pernah bubar. Lagi pula, meskipun saat ini tidak ada Negara Islam, tetap saja muncul gerakan separatisme di Aceh, Maluku, Papua, dan mungkin daerah-daerah lain. Separatisme itu muncul kebanyakan karena daerah-daerah merasakan kebijakan politik Jakarta yang tidak-adil, khususnya dalam soal ekonomi. Dalam kondisi seperti saat ini banyak orang percaya, bahwa NKRI akan bubar juga, meskipun tanpa faktor Negara Islam. Justru seharusnya diajukan pertanyaan terbalik: Bagaimana NKRI bisa bertahan tanpa peranan Sistem Islam? Toh, sudah terbukti selama 65 tahun sistem sekuler gagal?).
[o] Negara Islam tidak dikenal dalam ajaran Islam, sebab dalam Kitabullah dan Sunnah, tidak ada istilah ‘negara’. (Pandangan ini dianut oleh Gus Dur, orang-orang Liberal, dll. Jadi, kalau dalam Al Qur’an dan Sunnah tidak ada istilah madrasah (sekolah), majlis taklim, qomus (kamus), majalah, jaamiah (universitas), nahwu-shorof (ilmu bahasa Arab), mustholah hadits (studi hadits), dll. Berarti semua itu tidak dibutuhkan oleh Islam? Begitukah?).
[o] Negara Islam tidak relevan dalam kehidupan modern, sebab ia tidak cocok dengan nilai-nilai Barat yang modern, trendy, aktual, membebaskan. Negara Islam hanya cocok di jaman batu, atau jaman “gurun pasir” di masa lalu.
[o] Negara Islam itu masih khilafiyah. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Kami ikut para ulama saja. Ikuta pa? Ya, menerima konsep negara sekuler. Selama pak kyai dan ustadz-ustadz kami setuju negara sekuler, kami ikut mereka saja. Ini lebih aman dan selamat. (Selamat apa? Maksudnya, selamat sampai kecemplung ke neraka?).
[o] Negara Islam boleh, tapi sekuler juga boleh. Ini hanya soal pilihan saja dalam memilih bentuk sistem politik yang kita sukai. (Andaikan hanya pilihan, buat apa Nabi sampai hijrah dari Makkah yang menganut sistem jahiliyyah?).
[o] Negara Islam lebih sesuai Syariat Islam, tetapi kita tidak boleh melawan penguasa. Mentaati penguasa lebih utama daripada memperjuangkan Negara Islam. Kaum “Ahlus Sunnah” tidak pernah menentang penguasa, meskipun itu penguasa kafir yang menerapkan sistem kufur. Bagi “Ahlus Sunnah” mentaati penguasa adalah KEWAJIBAN TERBESAR dalam agama, melebihi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bersujud di depan telapak kaki penguasa adalah akidah terbesar kaum “Ahlus Sunnah”. (Tidak ada komentar atas keyakinan seperti ini selain: Na’udzubillah wa na’udzubillah minad dhlalah wa ahliha).
[o] Meyakini Negara Islam adalah pasti, TETAPI (selalu ada tetapi-nya) dalam praktik kenegaraan kita harus pintar bermain politik dan strategi. Kita sama-sama meyakini kebenaran Negara Islam, tetapi kita perlu mengikuti permainan orang sekuler. Hanya itu pilihan kita. Ikuti dulu cara main mereka. Kita kalahkan mereka dengan cara yang mereka buat sendiri, setelah mereka kalah, baru kita dirikan Negara Islam. (Pandangan ini dianut oleh para politisi Muslim dan para aktivis partai Islam/Muslim. Tetapi orang sekuler tidak kalah pintar, mereka membuat banyak syarat yang membuat para aktivis Islam itu tidak berkutik. Akhirnya para aktivis Islam itu ikut berserikat dalam menghalalkan riba, prostitusi, pornografi, minuman keras, perjudian, diskotik, night club, dll. Atas kontribusi mereka dalam ikut menghalalkan perkara-perkara haram, mereka mendapat gaji/insentif besar. Setiap rupiah gaji yang diterima dan dikonsumsi, berasal dari perserikatan dalam menyingkirkan hukum Islam dan menghalalkan perkara-perkara haram. Setelah kenyang dengan gaji semacam itu, mereka mulai sinis kepada siapa saja yang menyuarakan ide Negara Islam).
Semua pandangan-pandangan di atas adalah tidak benar. Bahkan sebagiannya telah menjadi kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, bahwa sebab-sebab rusaknya hati ada dua, yaitu syubhat dan syahwat. Pandangan beliau ini sangat tepat untuk mengungkapkan keadaan orang-orang yang menolak Negara Islam. Mereka telah dikuasai oleh syubhat dan syahwat, sehingga tersamar dari melihat kebenaran.

GUNAKAN AKAL SEHAT
Untuk menguji kesalahan pandangan-pandangan di atas, sebenarnya sangat mudah. Cukup dengan bekal AKAL SEHAT kita akan bisa mematahkan pandangan anti Negara Islam itu. Coba perhatikan penjelasan-penjelasan di bawah ini:

Menurut Anda, sesuatu amal disebut Islami karena apa? Apakah karena amal itu dilakukan oleh seseorang yang bernama Muhammad atau Abu Bakar? Apakah karena amal itu dilakukan oleh orang Arab? Apakah karena amal itu diberi label “100 % Sesuai Syariat”? Tentu saja, ia disebut Islami karena sesuai dengan petunjuk Kitabullah dan As Sunnah.

Bolehkah seorang Muslim minum minuman keras? Tentu jawabnya, tidak boleh. Mengapa? Sebab minuman keras haram. Haram menurut siapa? Haram menurut Syariat Islam. Kalau minum air mineral? Boleh, sebab air itu halal. Jadi, standar haram atau halal adalah Syariat Islam. Apa saja yang sesuai Syariat adalah boleh, dan yang melanggar adalah dilarang.

Lalu di mata kita, Islam itu agama seperti apa? Apakah Islam hanya mengurus masalah Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji saja? Apakah Islam hanya mengurus masalah nikah, talaq, kerudung, makanan halal, penyembelihan, kurban? Atau apakah Islam hanya mengurus hak anak yatim, nafkah keluarga, hak waris, hukum saudara sesusuan? Tentu jawaban atas semua pertanyaan ini adalah tidak. Islam mengurus banyak perkara. Islam menjelaskan adab-adab kehidupan secara menyeluruh, sejak adab masuk WC sampai adab memilih pemimpin negara. Yang disebut, “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduni,” mencakup keseluruhan hidup manusia. Sejak urusan doa sebelum jima’ dengan isteri, sampai siasat perang menghadapi musuh; sejak urusan belajar alif, ba’, ta’, sampai baiat terhadap pemimpin; sejak urusan menyapih bayi sampai diplomasi terhadap negara orang kafir. Cakrawala peradaban Islam luas, seluas cakupan kehidupan manusia itu sendiri.
Jika urusan halal-haramnya minuman dan makanan saja diatur dalam Islam, dan semua masyarakat kaum Muslimin tidak menolak aturan itu, lalu mengapa urusan negara tidak boleh diatur dengan Islam? Apakah Anda akan mengatakan, bahwa urusan makan-minum lebih penting daripada urusan Negara? Apakah urusan makan tape, makan burger, makan kepiting, lebih penting dari urusan negara? Jika Anda menjawab, “Ya!” Berarti Anda berada dalam masalah serius. Dulu, para Shahabat Ra, dalam rangka menyelamatkan masa depan Negara Islam, setelah Nabi wafat, mereka berselisih tajam di Saqifah Bani Sa’idah. Padahal ketika itu mereka belum mengurus jenazah Nabi sedikit pun. Di mata mereka, memastikan keselamatan negara lebih utama dari mengurus jenazah Nabi. Ingat, jenazah Nabi lho. Bukan manusia sembarangan.

Jadi, bagi manusia yang berpikir jujur dan adil, memahami bahwa konsep Negara Islam itu benar, dan ia wajib diyakini kebenarannya, adalah urusan yang sangat mudah. Hanya saja, kalau seseorang sudah terjerumus dalam kekalutan pemikiran yang dipilihnya sendiri, hal-hal demikian terasa sangat rumit dan memayahkan. Padahal kesulitan itu mereka buat sendiri.

DALIL KEBENARAN NEGARA ISLAM
Sebagian orang merasa belum puas atau mantap hatinya, sebelum membaca dalil-dalil Syar’i yang mendukung kebenaran konsep Negara Islam. Disini insya Allah akan kita sebutkan dalil-dalil tersebut. Semoga penjelasan ini semakin memperkuat keyakinan kita, bahwa Negara Islam adalah benar. Bahkan sudah semestinya setiap Muslim meyakini Negara Islam.

Dalil-dalil Syar’i yang menjadi dasar legitimasi kebenaran Negara Islam, antara lain:
  1. Nabi Muhammad Saw pernah ditawari utusan kaum musyrikin Makkah, yaitu Utbah bin Rabi’ah (atau Abul Walid) untuk menjadi pemimpin atau raja di Makkah, asalkan Nabi tidak meneruskan dakwahnya. Atas tawaran itu, Nabi menolak. Sebagian orang berpandangan, bahwa kejadian ini merupakan bukti bahwa Nabi tidak membutuhkan kepemimpinan politik. Nabi hanya seorang dai, bukan pemimpin politik. Itu adalah kesimpulan buruk yang harus segera disingkirkan. Nabi menolak menerima tawaran itu, sebab beliau harus menghentikan dakwah Islam. Kemudian Nabi menjadi pemimpin di atas sistem jahiliyyah di Makkah. Sungguh, Nabi tidak menolak kepemimpinan politik, jika hal itu lurus sesuai ajaran Islam. Terbukti, selama masih di Makkah, belum hijrah ke Madinah, Nabi menerima BAI’AT orang-orang Madinah. Inilah yang dikenal sebagai Bai’at Aqabah I dan II.(Bai’at ini selain dilakukan di Makkah, fungsinya juga untuk membai’at seorang pemimpin). Nabi Saw menolak menjadi raja di Makkah karena harus membangun sistem jahiliyyah, lalu Nabi memilih hijrah ke Madinah, dimana disana beliau bebas mengembangkan tatanan Islam. Demi menegakkan sistem Islam, Nabi Saw memilih hijrah ke Madinah.
  2. Setelah hijrah ke Madinah, Nabi mengganti nama kota itu dari yang semula Yatsrib, diganti menjadi Madinatun Nabawiyyah atau Madinatul Munawwarah. Disingkat, Madinah. Ini menjadi bukti bahwa Nabi Saw benar-benar serius dalam membangun sistem Islam, sampai urusan nama kota pun diubah menjadi bermakna Islami. Andai sistem Islam itu sama saja dengan sistem lain, tentu Nabi tidak perlu mengubah nama kota Yatsrib.
  3. Di Madinah, Nabi membangun peradaban mandiri dengan dasar Kitabullah dan As Sunnah. Nabi tidak mengambil panduan lain, selain Kitabullah dan Sunnah. Padahal ketika itu sudah ada model-model peradaban lain, seperti peradaban Yahudi, Nasrani, Romawi, Persia, Mesir, Arab Badui, dll. Bahkan Nabi mengingatkan ummat agar tidak meniru tatacara perikehidupan orang kafir. Beliau bersabda, “Wa man tasyab-baha bi qaumin, fa huwa minhum,” (siapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia menjadi bagian dari kaum itu). Untuk lebih menegaskan lagi, Ali bin Abi Thalib Ra pernah mengatakan, “Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.”
  4. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Dan jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara, kembalikankan kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (An Nisaa’: 59). Sistem negara yang benar adalah yang sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya; sistem yang bathil adalah yang menyalahi firman Allah (Kitabullah) dan sabda Rasul (As Sunnah).
  5. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam ini secara totalitas. Dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaitan, sebab dia adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al Baqarah: 208). Membatasi Islam hanya dalam urusan ibadah, nikah, makanan-minuman, Umrah dan Haji; termasuk bagian dari menuruti langkah-langkah syaitan yang diperingatkan dalam ayat ini.
  6. Nabi Saw pernah bersabda, “Setiap ummatku masuk syurga, selain yang menolak.” Beliau ditanya, “Siapa yang menolak itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang mentaatiku, dia masuk syurga. Siapa yang menyalahi ajaranku, dialah yang menolak (masuk syurga).” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah Ra). Negara Islam adalah ajaran Nabi, maka siapa yang menolaknya, maka dia telah menolak masuk syurga.
  7. Nabi Saw juga bersabda, “Dan berpeganglah kalian kepada Sunnah-ku dan Sunnah para Khalifah yang dibimbing (Allah Ta’ala) sesudahku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari urusan-urusan yang diada-adakan (bid’ah), karena setiap bid’ah itu adalah sesat.”  (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi). Hadits ini selain memerintahkan kita mengikuti Nabi dan para Khulafaur Rasyidin, juga memperingatkan kita dari mengadopsi ajaran di luar Islam, seperti sistem negara sekuler, negara jahiliyah, negara westernis, negara nasionalis, dll. sebab semua itu adalah SESAT dan MENYESATKAN. [Hendak kemana lagi orang-orang yang mengaku “Ahlus Sunnah” itu akan bersembunyi? Dengan apa lagi mereka akan mendalili kesesatannya?].
  8. Selama di Makkah, Nabi dan Shahabat mengalami puluhan kali peperangan, baik perang besar atau kecil. Perang yang besar antara lain, perang Badar, Uhud, Ahzab, Khaibar, Hunain, Tabuk, Fathu Makkah. Mengapa semua perang ini dilakukan? Ia dilakukan dalam rangka membela dan melindungi peradaban Islam yang tumbuh di Madinah. Demi membela Negara Islam, ajaran Islam menyerukan Jihad Fi Sabilillah. Siapa yang tidak ikut Jihad, padahal dia memenuhi syarat dan tidak ada halangan, dia masuk barisan orang-orang munafik. Kecuali siapa yang diampuni Allah dari kemunafikan. Kalau ada musuh yang menyerang Negara Islam, meskipun musuh itu ada yang beragama Islam, halal untuk diperangi.
  9. Nabi Saw menjelaskan, ada tiga golongan manusia Muslim yang dihalalkan darahnya, yaitu: (1) Orang yang sudah menikah, lalu melakukan zina; (2) Seseorang yang membunuh seorang Muslim, dia boleh dibunuh sebagai hukuman qishash; (3) Seseorang yang murtad dari Islam dan menyempal dari Jamaah Muslimin. (HR. Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Ra). Menyempal dari Jamaah maksudnya, keluar dari ketaatan terhadap pemimpin Islam yang memimpin dengan Syariat Islam.
  10. Dalam peristiwa Fathu Makkah ada pelajaran besar yang tidak mau dilihat oleh orang-orang sesat (sekalipun mereka mengklaim sebagai “Ahlus Sunnah”). Semula, Makkah adalah kota yang berlandaskan sistem jahiliyyah. Dalam peristiwa Fathu Makkah, kota ini jatuh ke tangan kaum Muslimin di bawah pimpinan Nabi Saw. Sejak dikuasai kaum Muslimin, segera ditegakkan sistem Islam di dalamnya. Buktinya, sejak saat itu Makkah dibersihkan dari berhala-berhala dan simbol kemusyrikan. Lalu Makkah ditetapkan sebagai Kota Suci, dimana orang-orang kafir dilarang masuk ke dalamnya. Ini menjadi contoh nyata, bahwa Nabi Saw berjuang menerapkan dan menegakkan peradaban Islam. (Jadi bukan peradaban kaum Murji’ah yang mentoleransi sistem jahiliyyah di muka bumi).
  11. Setelah kedudukan Islam kokoh di Madinah, Nabi Saw menyampaikan surat dakwah kepada raja-raja di Jazirah Arab dan sekitarnya. Surat ditujukan kepada Raja Najasyi di Ethiopia, Raja Muqauqis di Mesir, Kisra di Persia, Hiraklius di Romawi (Konstantinopel), Al Mundzir bin Sawa (Amir Bahrain), Haudzah bin Ali (Amir Yamamah), Al Harits Al Ghassany (Amir Damaskus), Jaifar dan Abdu (Raja Oman). Mereka diajak masuk Islam. Surat-surat ini merupakan bukti luar biasa yang menunjukkan bahwa Islam tidak akan membiarkan peradaban manusia berada dalam jahiliyyah, tetapi diajaknya masuk ke dalam salamah (keselamatan dan damai). Surat ini sekaligus menjadi bukti bahwa ajaran Islam bukan hanya untuk Jazirah Arab, tetapi untuk seluruh peradaban manusia di bumi.
  12. Dinasti Umayyah yang mulai berdiri di Damaskus, dengan perintisnya Abu Sufyan Ra, meskipun ia adalah sistem dinasti yang tidak sesuai dengan sistem Khalifah yang dicontohkan oleh Khulafaur Rasyidin, tetapi mereka tetap menerapkan sistem Islam, yang berdasarkan Kitabullah dan As Sunnah. Perkecualian pada sistem dinasti yang sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh Islam.
Dalil-dalil ini sebenarnya banyak, tetapi cukup dijelaskan sampai disini saja. Apa yang diutarakan disini sudah menjawab dalil-dalil fundamental yang membenarkan konsep Negara Islam. Intinya, Negara Islam adalah KONSEP ISLAMI yang diajarkan dalam Kitabullah dan Sunnah, serta dicontohkan oleh Nabi Saw, para Khulafaur Rasyidin Ra, serta imam-imam kaum Muslimin selama ribuan tahun. Tidak ada yang menentang sistem Islami ini, selain mereka akan berhadapan dengan sabda Nabi Saw, “Wa iyyakum wa muhdatsatil umur, fa inna kulla bid’atin dhalalah,” (berhati-hatilah kalian dari urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap bid’ah yang diada-adakah itu adalah sesat).

PENJELASAN IBNU KATSIR
Ada sebuah ayat Al Qur’an yang maknanya sangat jelas, bahwa setiap insane harus mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka harus tunduk di bawah tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah. Disebutkan dalam Al Qur’an, “Katakanlah: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32).
 
Atas ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah memberi penjelasan sebagai berikut:
“Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kepada setiap orang dari kalangan khusus atau umum, lalu disebutkan ayat di atas. Kalimat ‘Jika kalian berpaling,’ maksudnya: jika kalian menyelisihi ajarannya (ajaran Nabi Saw). Kalimat ‘Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir,’ menunjukkan bahwa siapa yang menyelisihi jalan Nabi, dia kufur, dan Allah tidak suka kepada orang yang disifati dengan hal itu (yaitu kekafiran), meskipun dia mendakwahkan diri dan mengklaim mencintai Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya; sampai mereka ikut Nabi yang ummi, penutup para Rasul, dan utusan Allah kepada golongan jin dan manusia; yang mana jika ada para Nabi, bahkan para Rasul, bahkan Rasul Ulul Amri, mereka ada di jaman Nabi Saw, maka tidak ada kelonggaran atas mereka, selain mengikuti beliau, masuk ke dalam ketaatan kepadanya, dan ikut Syariat-nya.” (Tafsir Al Qur’anul Azhim, Ibnu Katsir, jilid II, hal. 25).

Penjelasan ini sangat jelas, bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya meliputi semua kalangan manusia. Jangankan manusia biasa. Bahkan andai para Nabi dan Rasul hidup di jaman Nabi Muhammad Saw, maka mereka pun harus taat kepada ajaran beliau.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku Islami, lalu menghalalkan adanya sistem kehidupan lain, selain yang diajarkan dalam Al Qur’an? Baik itu sistem berdasarkan ajaran Barat kapitalis, Timur komunis, Persemakmuran Inggris, Zionisme Yahudi, nasionalisme, tradisionalisme, primordialisme (kesukuan), dan lain-lain? Apakah mereka diberi keluasan untuk mengambil sistem non Islam, sementara para Nabi dan Rasul tidak diberi keluasan mengambil selain ajaran Nabi Saw? Apakah mereka lebih mulia dari Nabi dan Rasul As?

Mengikuti ajaran non Islam yang tidak diajarkan oleh Nabi, dalam Al Qur’an disebut sebagai: Ittiba’ khuthuwatis syaithan (mengikuti jalan-jalan syaitan). Tentu saja, semua itu haram, dilarang, dan tidak boleh diikuti. Mengikuti jalan syaitan sama saja dengan menjerumuskan diri ke dalam kesusahan dunia-Akhirat. Na’udzubillah min dzalik.

PHOBIA NEGARA ISLAM
Di kalangan kaum Muslimin banyak yang merasa phobia (takut) dengan Negara Islam. Jangankan untuk meyakini atau mendakwahkan, mendengar namanya saja mereka takut. Ketakutan mereka kepada Negara Islam melebihi takutnya kepada Yahudi dan Nashrani. Bahkan bisa jadi, mereka lebih takut kepada Negara Islam daripada kepada PKI. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Pikiran dan hati mereka telah sedemikian dalam terjerumus ke dalam perangkap-perangkap ajaran non Islam, sehingga untuk meyakini sesuatu yang benar, mereka begitu ketakutan. Di jaman Orde Lama, mereka ketakutan mendengar istilah DI/TII. Di jaman Reformasi, mereka ketakutan mendengar istilah “perang melawan teroris”. Nanti di jaman yang baru lagi (jika ada demikian) pasti akan muncul lagi bentuk ketakutan yang lain. Akhirnya, sepanjang masa mereka tidak pernah meyakini kebenaran Negara Islam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Banyak orang berprasangka buruk kepada konsep Negara Islam, selain karena memang hatinya mendengki, juga karena pikirannya kacau oleh penyesatan-penyesatan yang canggih, juga karena mereka terjerumus perangkap-perangkap syubhat yang disebarkan oleh kaum “alim-ulama”. Para ulama biasanya disebut Wara-tsatul Anbiya’ (pewaris Nabi). Tapi ini berbeda, mereka malah anti dan memusuhi warisan Hadharah Nabawiyyah (peradaban kenabian).

Ulil Abshar Abdala pernah mengatakan bahwa, “Negara sekuler itu bisa mewadahi energi kesalehan sekaligus energi kemaksiatan.” Ide yang dilontarkan Ulil ini banyak dianut kaum Muslimin di Indonesia saat ini. Mereka takut dengan Negara Islam, karena takut kebebasan mereka untuk melakukan maksiyat akan dipasung atau dipenjara. Katanya, “Negara Islam itu terlalu banyak larangan. Ini tak boleh, itu tak boleh. Hidup jadi tak enak, serba dilarang. Lebih baik hidup seperti bangsa Amerika, hati bisa puas dan merdeka berbuat maksiyat.”

Sebenarnya, semua jenis perbuatan amoral (maksiyat) itu merugikan manusia. “Perbuatan dosa itu berbiaya tinggi,” demikian prinsipnya. Semua bangsa yang senang berbuat maksiyat, mereka bisa jatuh dalam kemiskinan, seperti negara-negara di Amerika Selatan. Begitu pula, perbuatan maksiyat bisa menghancurkan struktur sosial. Di Eropa, banyak negara mengeluh karena generasi mudanya enggan menikah, sehingga pertumbuhan penduduk minus. Anak-anak muda Eropa sudah senang dengan seks bebas, mereka enggan berkeluarga. Kalau berkeluarga, cepat sekali bercerai. Lagi pula, amoralitas itu menghancurkan produktifitas. Buktinya, klub-klub bola di Inggris sering kewalahan karena perbuatan selingkuh pemain-pemainnya. Bahkan pelatih Timnas Inggris saat ini, dia melarang para pemain Inggris minum minuman keras selama musim Piala Dunia. Hampir tidak ada satu pun negara waras yang membenarkan minuman keras, pornografi, pelacuran, homoseks, kriminalitas, pembunuhan, dan sejenisnya. Kalaupun ada negara yang sangat permissif paling Belanda, Jepang, atau Amerika. Bahkan di Amerika sendiri, sopir yang kedapatan mabuk alkohol bisa mendapat masalah besar. Begitu pula, kalau ada seseorang terbukti membunuh orang lain, dia bisa dikenai hukuman mati. Bahkan pelecehan seksual, misalnya hanya melontarkan suara “suit-suit” kepada seorang wanita, lalu dia tidak suka; hal itu bisa diadukan ke pengadilan.

Ada 7 ATURAN yang sering ditakuti oleh manusia, ketika mereka berbicara tentang Syariat Islam. Pertama, kewajiban Shalat Lima Waktu, bagi yang sudah dewasa. Kedua, kewajiban menutup aurat, khususnya kewajiban memakai jilbab bagi kaum wanita dewasa. Ketiga, larangan makan makanan haram seperti babi, bangkai, darah mengalir, ular, tikus, dll. Keempat, larangan mengambil harta orang lain secara haram, baik melalui mencuri, menipu, merampok, korupsi, praktik rentenir, dll. Kelima, larangan melakukan hubungan seks di luar nikah, baik melacur, selingkuh, seks bebas, perkosaan, homoseks, dll. Keenam, larangan membunuh jiwa manusia yang haram dibunuh, atau menyakiti fisik orang lain tanpa hak, atau menyebarkan fitnah yang tidak benar, dll. Ketujuh, larangan berbuat kekafiran, seperti murtad, menyebarkan paham kekafiran, melakukan sihir, menyebarkan perdukunan, dll.

Kalau mau jujur, HANYA 7 ATURAN itu yang menjadi sumber ketakutan manusia terhadap Syariat Islam. Artinya, jika mereka sanggup mentaati 7 PERKARA itu dengan baik, jalan untuk hidup damai di bawah naungan Islam, terbentang luas di hadapannya.

Shalat 5 Waktu adalah sumber hidupnya jiwa manusia, sebab Shalat itu menghubungkan jiwa manusia dengan Rabb-nya. Kalau tidak mengerjakan Shalat, seseorang seperti “layang-layang putus” di langit. Mereka hidup terombang-ambing dalam segala bentuk kerisauan. Jadi ini menyangkut kestabilan spiritual manusia. Mungkinkah ada peradaban yang stabil, jika jiwa-jiwa manusianya penuh masalah dan gelisah? Kewajiban memakai jilbab bagi wanita adalah demi memelihara kehormatan mereka, dan agar tidak menyebarkan praktik amoralitas di tengah masyarakat. Kemana saja seorang wanita bergerak, dia membawa potensi godaan bagi syahwat laki-laki. Aturan jilbab bermanfaat menjaga kebaikan wanita, menjaga mata kaum laki-laki, dan menyelamatkan moralitas masyarakat secara luas.

Larangan makan makanan haram, terlepas dari segala hasil penelitian modern, hal ini tidak sulit ditaati. Jumlah makanan yang haram dimakan jauh lebih sedikit ketimbang makanan yang halal di makan. Prinsipnya, “Semua makanan halal, kecuali yang jelas-jelas diharamkan.” Coba, kalau aturan ini dibalik, “Semua makanan haram, kecuali yang jelas-jelas dihalalkan,” kira-kira akan bagaimana sikap manusia terhadap Syariat Islam?
Larangan mengambil harta orang lain. Ini sangat mudah dipahami. Logikanya, “Jika Anda tidak suka harta Anda diambil orang lain, maka jangan mengambil harta orang secara bathil.” Tentang masalah seks bebas, semua itu akibatnya sangat buruk bagi masyarakat. Seks bebas menyebabkan aborsi, perceraian, wanita melahirkan tanpa ayah, rusaknya garis keturunan, konflik, dll. Adapun tentang pembunuhan dan kekerasan, ya di hukum apapun, perbuatan membunuh atau menganiaya orang lain jelas-jelas dilarang.

Sedangkan tentang larangan menjadi kafir, murtad, atau melakukan hal-hal yang bisa membawa kepada kekafiran, hal ini menjadi hak asasi setiap agama yang ingin mempertahankan dirinya. Di negara sekuler seperti Amerika, kita tidak bisa melarang orang disana menjadi sekuler. Kalau kita larang, malah kita dianggap melanggar hukum. Di Turki, kalau ada orang yang menghina nilai-nilai sekularisme, dia bisa dipenjara. Begitu pula di China, kalau ada yang melarang penyebaran ideologi marxis-atheis, mereka bisa dituduh sebagai musuh negara.

Secara umum, hanya 7 ATURAN itu yang menjadi sumber ketakutan manusia jaman sekarang terhadap pemberlakuan sistem Islam. Mereka terlalu banyak berprasangka buruk, sambil tidak mau melakukan kajian secara serius. Pikiran mereka banyak menyeleweng akibat berbagai upaya penyesatan yang tak henti-henti, baik oleh media-media massa sekuler, pemikir-pemikir berkedok “cendekiawan muslim”, juga karena banyaknya syubhat yang disebarkan oleh orang-orang sesat berkedok “ahli ilmu”. Di sisi lain, kaum hedonis juga tak henti-hentinya meneriakkan semboyan kebebasan dan penghambaan hawa nafsu.

Demi Allah, Negara Islam itu merupakan jalan yang mudah, realistik, dan sangat manusiawi. Kalaupun di otak kita tumbuh banyak ketakutan terhadap sistem ini, hal itu lebih karena kita tidak tahu saja. Dan satu lagi, kita tidak pernah mengalami indahnya kehidupan di bawah sistem Islam. Jadi, ini adalah ketakutan yang dibuat-buat, merupakan was-was bisikan syaitan, serta gejala halusinasi dari masyarakat yang belum pernah mengalami sesuatu.

Bayangkan saja, kalau masyarakat Indonesia mau patuh dalam 7 ATURAN itu, seketika itu mereka telah mendapatkan Negara Islam, Sistem Islam, Peradaban Islam. Selanjutnya, tinggal kita maksimalkan berbagai kemudahan dan kebebasan yang kita peroleh dari kemurahan ajaran agama ini. Masya Allah, kalau manusia tahu hakikat persoalan ini, sungguh mereka akan MALU BESAR untuk bersikap sinis atau anti Negara Islam. Hanya para syaitan saja yang akan menolak diberi kebaikan, menolak diberi rizki, menolak dipayungi barakah, menolak diberi kasih-sayang, serta menolak perlindungan yang kuat.

KALAM AKHIR
Dari sekian panjang pembahasan ini, kita mendapati kesimpulan, bahwa konsep Negara Islam adalah konsep yang benar. Ia bukan saja merupakan konsep warisan Salafus Shalih, bahkan ia adalah KONSEP NABAWI yang dibimbing oleh Wahyu dari langit. Nabi Saw dan para Khulafaur Rasyidin Ra menjadi perintis pelaksanaan sistem Negara Islam ini.

Lalu bagaimana hukum melaksanakan Negara Islam ini dalam kehidupan kaum Muslimin? Tidak diragukan lagi, hukumnya adalah wajib bagi kaum Muslimin yang mampu menunaikannya. Adapun bagi Ummat Islam yang merasa dirinya lemah atau tidak mampu, mereka harus tetap meyakini kebenaran konsep Negara Islam ini, dan tidak silau oleh sistem apapun selainnya. Bahkan hendaklah setiap Muslim meyakini kebenaran sistem Negara Islam ini dalam hidupnya, terlepas apakah dalam hidupnya diterapkan sistem Islami atau tidak.

Sebuah nasehat besar bagi setiap Muslim: “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimin” (janganlah kalian mati,kecuali dalam keadaan sebagai Muslim). Ayat ini juga bermakna, janganlah kita mati dalam keadaan tidak meyakini kebenaran sistem Negara Islam dan mengagumi sistem non Islam. Siapa yang mati dalam keadaan mendurhakai sistem Negara Islam, dia mati dalam jahiliyyah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Namun untuk merealisasikan sistem Negara Islam ini, saya menyarankan agar kita menempuh cara-cara damai. Kita bisa berdakwah, membina Ummat, menyampaikan bayan, berdiskusi secara hikmah, dan sebagainya. Hindari cara-cara kekerasan! Sebab kondisi Ummat Islam ini lemah di berbagai sisinya. Di tingkat lokal maupun internasional, keadaan kita terjepit. Jika ada elemen-elemen Ummat Islam yang menempuh cara kekerasan, hal itu akan mengundang GELOMBANG REAKSI berat. Media-media massa akan menghujani kita dengan berbagai fitnah yang sangat menyakitkan hati. Kita tahu, banyak media yang eksistensinya memang untuk menghalangi gerakan pembangunan Islam. Mereka tidak akan ragu untuk menjadikan kasus-kasus kekerasan itu sebagai senjata untuk merusak citra perjuangan kaum Muslimin.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Ummat, bagi generasi muda Muslim, bagi bangsa Indonesia; juga bermanfaat bagiku, ayah-ibuku, serta keluargaku seluruhnya. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mencintai Islam, mencintai peradaban Islam, mencintai sistem Islam, sekaligus mencintai Negara Islam. Semoga Allah menjadikan kita sebagai Muslim yang sepenuhnya, zhahir dan bathin, dunia Akhirat. Semoga Allah menolong kita atas kesulitan dan kesempitan yang kita alami, dalam meniti jalan Islam. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Tulisan ini secara khusus saya dedikasikan untuk KH. Firdaus Ahmad Naqib, yang memiliki obsesi ingin wafat di bawah naungan sebuah Negara Islam. Juga saya dedikasikan untuk Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, seorang sesepuh Muhammadiyyah, yang sepanjang hayatnya sangat gigih membela Syariat Islam di Indonesia. Juga saya dedikasikan kepada setiap Muslim yang mendambakan Daulah Islamiyyah di negeri Nusantara ini. Barakallah fikum jami’an.
Wallahu A’lam bisshawaab.
At Thalibu Rahmatar Rabbi
(Waskito Ibnu Boeang). 

sumber
http://abisyakir.wordpress.com
Selengkapnya »»»